Featured

Mudah lupa

Ini adalah kutipan pos.

Iklan

Seperti kebanyakan orang aku menulis karena mudah lupa. Karena tidak ingin yang sudah lepas terhempas begitu saja.

pos

Bukan untukku (2)

Bukan main memang pernyataan tentang cinta selalu berhasil membuatku lupa siapa yang menyatakan. Aku hanya tahu bahagia, tanpa pikir luka yang akan segera kuterima setelahnya. Luka yang sengaja kubuat sendiri dengan menjadi egois beberapa saat.
Kamu berhasil, sungguh. Membuat kata cinta itu menjadi bunga sekaligus duri dalam hatiku. Mekar seketika merekah tanpa alasan kemudian menancap melukai tanpa sadar.
Masih belum mengering luka sebab kepergianmu menuju tempat yang kamu sebut rumah itu, seiring waktu pembicaraan kita rasanya semakin hambar. Semakin tepat pula firasat ini bahwa disana kamu benar-benar merasa Kembali. Kamu tahu rasanya bagaimana? Dijelaskan pun kamu tak akan paham. Sebab luka-luka yang tak berdarah selalu sulit menemukan definisinya.
Belum lagi mendengar kabar pernikahan dari mulut mu sendiri rasanya duri yang kamu ciptakan benar-benar menusukku sekarang. Jangan salahkan aku jika air mata adalah pelarian terbaikku. Sebab dayaku apa? Mencegahmu? Itu bukan kapasitasku, bukan pula hakku. Rasa picik seperti itu yang kini menggerogoti rongga hatiku.
Akan butuh waktu lama untuk dapat sembuh dari luka ini aku tahu itu. Namun atas nama luka yang kelak akan mengering aku berusaha sekeras mungkin untuk melupa. Namamu, semua tentangmu akan benar-benar kubasuh seperih apapun. Selalu butuh perjuangan untuk menyembuhkan luka.
Tak mau lagi bertele-tele, bersamaan dengan kalimat-kalimat sesak ini aku ucapkan dua selamat untukmu.
Yang pertama selamat sudah menemukan rumahmu. Selamat sudah menemukan calon ibu untuk anak-anakmu kelak. Selamat atas hari bahagiamu.
Yang kedua selamat tinggal, yang pernah kita lewati bersama adalah episode hidup yang akan selalu membekas dalam ruang ingatan. Sekarang aku mengerti kenapa kamu harus pernah tinggal.

Bukan untukku

Pertemuan bagiku adalah awal dari sebuah cerita dimulai. Termasuk bertemu denganmu untuk yang pertama kalinya. Walau di tengah jalan aku tahu ini akan lebih singkat, bahkan dari yang aku kira.
Sudut pandangku mengenai kamu tak melesat sedikitpun. Caramu bicara, memperlakukanku, dan semuanya yang kuduga-duga tentangmu adalah benar. Kesalahannya hanya satu, bahwa yang menurutku benar belum tentu baik untukku.
Lagi-lagi terjadi dalam episode hidupku, aku jatuh pada seseorang yang sudah dimiliki. meskipun belum sepenuhnya, tetap saja label akan tetap menjadi label, siapa aku?
Lalu, ini salah siapa? Aku, kamu, atau semesta?
Semesta yang sudah dengan sudinya mempertemukan kita diwaktu yang tidak tepat sekalipun. Diwaktu yang aku bisa saja kamu miliki, tetapi kamu tak begitu. Diwaktu yang hadirnya kamu dihidupku hanya untuk sekedar menepis sepi sementara jarak memisahkanmu dengannya. Aku pelarian, dibeberapa waktu begitu kupikir.
Rupanya waktu menjawab semua tanya, tentang aku tentang kamu yang kemudian bertemu dan menjadi akrab. Katanya kita memang ditakdirkan untuk bertemu lalu berpisah. Bukan untuk bertemu lalu menyatu, dia bilang itu mustahil. Meskipun aku tidak setuju. Mati-matian aku katakan tidak setuju. Tetap saja waktu dan takdir bersekongkol, kamu bukan untukku.
Hari-hari berlalu, entah kenapa nyaman terus bersemayam dihatiku. Tapi dibeberapa waktu kamu menikam dibayak sudut. Hatiku, lagi-lagi terluka setelah bahagia. Dalam ruang obrolan kamu bicara denganku saat bersamanya. Sulit kupercaya bahwa aku menerima ini semua. Kamu tidak pernah tahu, aku kerap merasa jahat lalu terluka. Tampak baik-baik saja namun tersiksa. Diam namun menggerutu dalam-dalam. Percayalah, bahwa untukmu perasaan ini bulat-bulat kutelan.
Tak terasa tiba pada hari dimana sejak mengenalmu aku tak ingin melewati hari ini. Hari dimana jarak akan benar-benar membuat sekat diantara kita. Hari dimana akan dengan susah payah kulupakan. Dan hari dimana perasaanku harus benar-benar berakhir. Menyaksikanmu pergi untuk pulang pada dia yang kau sebut rumah.
Jangan tanya hatiku bagaimana hari itu, dia tak lagi patah. Remuk sudah berkat ulahmu. Aku marah, kecewa, terluka, menangis, pilu, kesal. Derasnya air mata tak lagi bersandiwara menghujani rasa-rasa itu. Jujur. Semua lepas saat selamat tinggal bebar-benar nyata kau ucapkan.

Patah hati terbaik (2018)

Batin lumpuh hatiku terkukuh
Pada pondasi-pondasi yang kau bangun dilapang hati
Pada dinding-dinding yang mengokoh seiring perhatianmu yang setingkat dewa
Pada atap yang sempat melindungiku dari badai
Sekejap mata
Sedetak jantung
Sedetik waktu
Kau guncang tanah-tanah disekitarnya
Hatiku porak poranda
Hancur dibawa arus murka yang kucipta
Lebur oleh pudar rasamu yang kian nyata
Dan hari itu, kau manusia paling berhasil
Yang menciptakan patah hati terabaik dalam hidupku
Terimakasih,
Aku belajar atas nama luka
Aku pamit atas nama cinta
-Subang 21 November 2018-

Sebuah surat dari sisi jingga (cerpen 2018)

Seseorang yang menjadi tujuan surat ini berlabuh, semoga setelahnya ada ruang untuk kutempati nantinya. Ruang yang selama ini diam-diam kulangitkan do’a untuk dapat ditempati oleh rasa yang mungkin bagimu sepele, namun aku cukup serakah untuk menikmatinya sendiri tanpa kamu tahu. Ruang itu hatimu, yang entah masih kosong atau sudah terisi, yang entah ada aku disana atau tidak.
Untuk sepasang mata yang kini membaca tulisanku, aku pernah berada pada situasi yang mencekam. Di waktu bersamaan perasaan dan keadaan berkecamuk di kepala. Entah sejak kapan sebuah rasa tiba-tiba merasuki hati saat persahabatan baru benar-benar terjalin nyata diantara kita.
Mungkin kamu sering mendengar perkataan ‘bahwa tak ada yang namanya persahabatan tanpa perasaan lebih dari sahabat antara pria dan wanita’. Bahwa peryataan itu pula yang kini hadir ditengah kita. Tepatnya disisi aku, yang meracuni diri sendiri dengan menjatuhkan hati padamu.
Kepadamu…
Aku tidak tahu tepatnya kapan, tepatnya bagaimana rasa ini tumbuh. Aku tidak akan menyalahkanmu dalam hal ini. Aku yang salah, aku yang telah salah memposisikan diri dalam pertemanan ini. Seharusnya aku bisa lebih kuat membentengi hati agar tak roboh hanya dengan secercah perhatianmu tempo hari. Seharusnya aku tak melukai pertemanan ini dengan perasaanku.
Hari ini, dalam kertas putih yang kini kukotori dengan tinta membentuk aksara yang kurangkai sedemikian rupa semoga kamu paham bahwa ada hati yang selama ini sengaja bersembunyi agar tak melukai siapapun. Agar tak melukai hubungan pertemanan ini.
Pada ratusan kilometer yang saat ini menjadi sekat pertemuan kita, harus kamu ketahui ada jutaan rindu yang setiap waktunya berusaha untuk kuredamkan sendiri. Aku berusaha untuk bertahan agar tak menghubungimu lebih dulu. Bukan karena pengecut, aku hanya tak terima jika pada akhirnya segala jenis perhatianku masih saja kau anggap sebagai perhatian seorang teman pada temannya. Tidak lebih dari itu.
Entah sejak kapan pula aku menjadi seorang penuntut seperti ini. Rasanya ini begitu menyesakkan jika harus kamu tahu. Mengendalikan ini sendirian bukanlah hal mudah. Aku ingin menuntut sesuatu darimu, tapi tak bisa menjadi yang lebih dulu.
Aku juga paham menyatakan bukan berarti nantinya akan menyatukan. Tetapi setidaknya ada resah yang sudah pecah. Setidaknya ada pesan yang sudah tersampaikan. Semoga kamu mengerti. Dan semoga kamu ingat juga bagaimana caraku membuka pembicaraan dalam surat ini. Aku menuntut sesuatu pada ruang hatimu.
Do’aku banyak untukmu, namun prioritasnya satu. Semoga kamu selalu dalam keadaan baik-baik saja dimanapun kamu berada. Karena menjadi seorang perantau, aku tahu itu cukup sulit. Maka, baik-baiklah kamu. Jaga diri dan hatimu agar tak jatuh ke tempat yang bukan habitatnya.
Sekian.
Tepat setelah selesai membaca surat yang pada amplopnya terdapat namaku air mata terjatuh tanpa sepengetahuanku. Aku kecolongan, hatiku seperti dicabik-cabik ratusan kali. Ada sesak yang tiba-tiba menghantam dadaku. Kenapa waktu sangat tidak tepat untuk aku tahu semuanya.
Kali ini mulai kugerakan jemari untuk mencari nama dalam kontak ponselku, nama yang sudah sangat kukenali sejak beberapa tahun ini. Nama yang raganya sudah jarang sekali kutemui akhir-akhir ini, disebabkan oleh kesibukan masing-masing ditambah jarak yang tak lagi dekat. Saat kutemukan nama sisi, tak ragu langsung ku mulai pembicaraan dalam ruang obrolan sebuah aplikasi pesan.
“Si, apa kabar?”
“btw aku udah baca kiriman surat dari kamu,”
Sudah terkirim namun belum juga ada tanda-tanda bahwa pesan telah dibaca. Aku putuskan untuk menunggunya membalas.
Sepuluh menit kemudian aku temukan pesanku sudah dibaca olehnya. Namun entah kenapa ada getar tak biasa pada percakapan yang baru kumulai kali ini, entah kenapa ini begitu pilu terasa.
Lalu tak menunggu waktu lama pesan yang telah dilayangkan sisi sampai padaku.
“aku baik, gimana kabar jingga disana, apa masih memperindah langit senja?” selalu begitu, wanita ini selalu saja menggunakan namaku untuk dijadikan bahan gombalan.
“bagus deh, kalau udah nerima surat dan isinya, berarti pak pos nya gak salah alamat yak”
Kenapa sisi terlalu santai menanggapi. Padahal aku terlalu serius menghadapi situasi macam ini. Apakah isi surat itu hanya basa-basi saja agar aku memberinya kabar.
“aku baik juga si” aku mulai mengetik kembali, lebih lama dari sebelumnya sebab akan melayangkan pertanyaan yang sudah sejak awal akan kupertanyakan namun sedikit ragu.
“zaman udah canggih, kenapa masih harus pake surat sih? wkwk” sedikit mencairkan suasana hatiku yang menegang.
“aku serius nanya nih, soal isinya itu kamu serius si?
“kenapa baru bilang?”
Sisi tampak mengetik kemudian tak lama tiba sebuah pesan.
“jangan bahas disini, kamu cukup balas surat itu. Zaman emang udah canggih ngga, tapi apa gak boleh ngasih kerjaan sama kantor pos? wkwk”
“udah ya, pokonya aku tungguin balesannya!”
Sepintas aku merasa ini adalah lelucon seorang sahabat yang sudah lama tak bertatap muka. Namun apapun itu aku akan tetap membalasnya meski dengan perasaan tak keruan. aku tidak tahu apa yang kelak akan terjadi setelah aku membalasnya. Aku sungguh sangat peduli pada apapun yang sisi rasakan, maka aku tidak berani membuatnya menunggu terlalu lama.
Aku mulai menuliskannya dalam sebuah kertas dengan penuh rasa berasalah didada.
Untuk seorang wanita yang menjadi sisi lain dariku, kamu cukup beruntung rupanya telah dilahirkan dengan nama itu. Karena aku bisa menggunakannya dalam beberapa situasi, setidaknya pada situasi itu aku mengingat dirimu. Kamu beruntung, tapi aku tak akan membahas itu kali ini.
Untuk seorang teman yang telah menemaniku, maaf aku bukan Tuhan yang tahu perihal isi hati. Yang sering manusia lain bilang bahwa “laki-laki sulit peka” barangkali itu aku. Maaf untuk tak cukup mahir menangkap sinyal-sinyal hatimu. Maaf, bukan maksudku sama sekali. Aku bahkan pernah beranggapan bahwa tak pernah ada aku dihatimu sebagai yang lebih dari seorang teman. Rupanya aku semengagumkan itu bisa masuk kehatimu lewat jalur yang lain hehe. Aku cukup bangga pada diriku kali ini. Namun beberapa saat setelah tahu itu aku cukup merasa hancur.
Dalam surat balasan ini aku akan memberi tahumu sebuah pernyataan. Pernyataan yang entah bagaimana kamu akan menerimanya, aku sudah cukup menggila untuk hal ini. Menggila untuk tak pernah mempercayai bahwa ini nyata. Dan menggila untuk tahu bahwa waktu terlalu cepat untuk mempertemukan aku dengan seseorang selain kamu.
Ya, tepat satu minggu yang lalu aku resmi menjalin hubungan dengan seorang wanita yang sering kutemui akhir-akhir ini. Dia begitu baik, baiknya memang tak bisa aku bandingkan denganmu. Kamu tentunya sudah yang terbaik sebagai sahabat dalam hidupku. Tapi kali ini berbeda, bersama dia aku menemukan hidup yang baru, cerita-cerita baru dan semua hal yang baru. Aku tahu betul, menyatakan ini akan sangat menyesakkan. namun disisi lain aku juga cukup mengenalmu, kamu pasti akan sangat dewasa mengahadapi ini meski aku juga tahu hatimu akan patah berkeping-keping. Bukan berarti aku besar kepala atas hal ini, aku hanya tidak ingin ada kesalah pahaman diantara kita.
Atas perhatianku yang sudah-sudah, aku mohon maaf jika kamu menanggapinya lebih dari seorang teman, sungguh aku hanya ingin memahami seorang perempuan.
Dan untuk tuntutanmu perihal ruang hatiku, aku akan menjawabnya bahwa ruang itu kini sudah terisi tiga orang wanita. Ibuku, kamu, dan seseorang yang kini menjadi kekasihku. Ibu sebagai segalanya bagiku, kamu sebagai sahabatku, dan dia sebagai seseorang dihidupku. Semoga itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Maaf jika setelah ini ada bagian dari hatimu yang terluka, semoga dilain kesempatan kamu segera menemui obatnya. Juga do’a yang kau lempar untukku, semoga itu senantiasa berbalik ke kamu. Kamu memang tidak ada duanya, sahabatku.
Sekian, Jingga.
Kali ini aku berusaha untuk menyeka air mata lebih dulu sebelum ia terjatuh. Ini cukup menyesakkan untukku,rupanya aku bukan laki-laki yang cukup tegar mengahdapi situasi seperti ini. Pasalnya dalam waktu yang bersamaan aku juga menaruh hati dan harapan yang sama pada sisi, namun yang ku tahu tak pernah ada aku dihatinya yang lebih dari seorang teman. Hingga pada akhirnya Diana datang dan mulai mengukir semua yang baru dalam hidupku. Ini sulit untuk bisa aku terima.