Featured

Mudah lupa

Ini adalah kutipan pos.

Iklan

Seperti kebanyakan orang aku menulis karena mudah lupa. Karena tidak ingin yang sudah lepas terhempas begitu saja.

pos

Surat pribadi

Untuk seseorang yang menjadi tujuan surat ini berlabuh, pertama-tama terimakasih telah bersedia meluangkan waktu membaca tulisan ini, semoga setelahnya ada sebuah ruang yang mulai terbuka untuk kutempati nantinya. Ruang yang selama ini diam-diam kulangitkan do’a untuk dapat ditempati oleh rasa yang mungkin bagimu sepele, namun aku cukup serakah untuk menikmatinya sendiri tanpa kamu tahu. Ruang itu hatimu, yang entah masih kosong atau sudah terisi, yang entah ada aku disana atau tidak.
Untuk sepasang mata yang kini membaca tulisanku, aku pernah berada pada situasi yang mencekam. Diwaktu bersamaan perasaan dan keadaan berkecamuk dikepala. Entah sejak kapan sebuah rasa tiba-tiba merasuki hati saat persahabatan baru benar-benar terjalin nyata diantara kita. Mungkin kamu sering mendengar perkataan ‘bahwa tak ada yang namanya persahabatan tanpa perasaan lebih dari sahabat antara pria dan wanita’. Bahwa pernyataan itu pula yang kini hadir ditengah kita. Tepatnya disisi aku, yang meracuni diri sendiri dengan menjatuhkan hati padamu.
Kepadamu..
Aku tidak tahu tepatnya kapan, tepatnya bagaimana rasa ini tumbuh. Aku tidak akan menyalahkanmu dalam hal ini. Aku yang telah salah memposisikan diri dalam pertemanan ini. Seharusnya aku bisa lebih kuat membentengi hati agar tak roboh hanya dengan secercah perhatianmu tempo hari. Seharusnya aku tak melukai pertemanan ini dengan perasaanku.
Hari ini, dalam kertas putih ini yang kini ku kotori dengan tinta membentuk aksara yang kurangkai sedemikian rupa semoga kamu paham bahwa ada hati yang selama ini sengaja bersembunyi agar tak melukai siapapun. Agar tak melukai hubungan pertemanan ini.
Pada ratusan kilometer yang saat ini menjadi sekat pertemuan kita, harus kamu ketahuai ada jutaan rindu yang setiap waktunya berusaha untuk kuredamkan sendiri. Aku berusaha untuk bertahan agar tak menghubungimu lebih dulu. Bukan karena pengecut, aku hanya tak terima jika pada akhirnya segala jenis perhatianku masih saja kau anggap perhatian seorang teman pada temannya.
Entah sejak kapan pula aku menjadi seorang penuntut seperti ini. Rasanya ini begitu menyesakan jika harus kamu tahu. Mengendalikan ini sendirian bukanlah hal mudah. Aku ingin menuntut sesuatu darimu, tapi tak bisa menjadi yang lebih dulu.
Aku juga paham menyatakan bukan berati nantinya akan menyatukan. Tetapi setidaknya ada resah yang sudah pecah. Setidaknya ada pesan yang sudah tersampaikan. Semoga kamu mengerti. Dan semoga kamu ingat juga bagaimana caraku membuka pembicaraan dalam surat ini. Aku menuntut sesuatu pada ruang hatimu.
Do’aku banyak untukmu, namun prioritasnya satu. Semoga kamu selalu dalam keadaan baik-baik saja dimanapun kamu berada. Karena menjadi seorang perantau, aku tahu itu cukup sulit. Maka, baik-baiklah kamu. Jaga diri dan hatimu agar tak jatuh ketempat yang bukan habitatnya.

Sekian.

Mungkin?

Mungkin duniaku yang terlalu sempit, sehingga kemanapun aku berlari yang kutemui hanya lempengan hati yang masih sama.
Mungkin duniamu yang terlalu luas, sehingga begitu sulitnya menemukan aku. Padahal aku tak pernah kemana-mana.
Mungkin dunia kita yang memang tak pernah bisa sama, bukan kita.

Aku mengerti, keadaannya sekarang berbeda. Aku maupun kamu sudah tak sama lagi. Yang menjadi pemisah diantara kita kini bukan hanya jarak, melainkan rasa yang lama terpendam kemudian tiba-tiba terbenam. Tidak hilang, hanya terbenam, esok pasti terbit kembali. Meskipun padamu, aku mulai meragu.

Barangkali ada hati yang tersembunyi, ada perasaan yang tak sempat diteriakkan, dan ada untaian do’a yang selalu dilantunkan.
Barangkali memang ada, tapi aku tidak peka.

Tentang harapan yang kerap dipatahkan, aku ingin menjadi pemimpi yang seoptimis maumu. Yang tak urung akan sebuah tantangan. Yang tetap tabah meski nalar mulai melemah. Yang masih bisa tertawa ditengah air mata yang sengaja diseka tanpa mereka tahu. Aku ingin seperti itu, tapi tolong bantu aku yakinkan nurani agar tak pernah membeci rasa percaya diri.